Kemarin, hari Jum'at, 21 Agustus 2009, masih seputar pendidikan di Indonesia, khususnya di kota Jogja tercinta ini, seorang mahasiswa yang meminta bantuan olah data kepada isteri saya datang dan memaki-maki kembali. Dia menyalahkan isteri saya karena dia disalahkan dosennya. Kesalahannya adalah angka 50%. Menurut dosen dia 50% itu salah. Di situ angka yang diperoleh adalah nilai 40 dari totalnya 80.
Dosen itu yang pernah mengatakan -4 lebih besar dari -1
Isteri saya bersikukuh bahwa 40 dari 80 itu ya 50%, ditanya kepada siapapun ya pasti 50%. Mahasiswa ini adalah mahasiswa yang kasusnya sama dengan kemarin mengenai dosennya yang mengatakan bahwa -4 > -1, yang akhirnya isteri saya menyarankan mahasiswa tersebut menemui seorang profesor di UGM. Setelah ketemu profesor UGM, beliau mengatakan bahwa -1 > -4. "Sejak kapan -4 > -1?", imbuh profesor UGM tadi. Anak SD saja tahu. Akhirnya dosen pengujinya menyerah, akan tetapi mencari-cari kesalahan lagi.
Dosen itu kembali menyalahkan angka 50% dari 40 / 80.
Kali ini angka 50%. "Pokoknya salah mbak, ini harus dibenerin!", kata mahasiswa tadi membentak isteri saya.
Wah, pusing juga isteri saya, masih ditambah lagi mahasiswa tersebut ngotot bahwa istri saya salah, harusnya angkanya bukan 50%, karena dosennya mengatakan demikian. Yang menurut saya semakin parah adalah yang menyalahkan hal ini seorang dosen penguji di sebuah Universitas yang cukup ternama juga di Jogja. Universitas yang belum lama menjadi Universitas dimana sebelumnya Sekolah Tinggi.
Saya mulai berfikir, akan menjadi apa masa depan bangsa kita ini kalau masih banyak tenaga pendidik yang menurut saya tidak pantas untuk menjadi seorang pendidik. Oke-lah, mungkin dosen tersebut tidak mengerti tentang matematika, tidak mengerti tentang statistik. Kalau memang tidak mengerti tentang statistik ya semestinya tidak perlu mencari-cari kesalahan di bidang statistik. Kan jadi lelucon yang ga lucu. Tetapi sepengetahuan saya, dosen tersebut mengajar statistik. Nah gimana tuh?
Pendidikan semakin tidak profesional, masyarakat sebagian besar menempuh pendidikan formal hanyalah untuk mendapatkan ijazah. Saya kira tidaklah masalah jika mereka bertujuan itu selama di lingkungan pendidikan benar-benar diisi oleh tenaga profesional dan menjunjung tinggi etika di dalam dunia pendidikan.
2009-08-22 10:46:46 Mbak siti, saya tidak ingin mengungkapkan siapa dosenya dan universitas mana. Saya berharap dosen tersebut membaca tulisan ini dan segera sadar akan kesalahannya (menurut saya dan sebagian orang akan mengatakan bahwa 40/80 adalah 50% dan -1 > -4).
Untuk bisa kirim komentar Kamu harus login dahulu!
Ratih, Sedikit orang yang selalu ingat akan kematian...Kematian bisa menjemput siapa saja, kapan saja tidak peduli sudah tua atau masih muda, kaya atau miskin...
Nasirudin, Itulah ketika seseorang tidak bisa melawan hawa nafsu. Jika hawa nafsu sudah mengalahkan kita, maka akal sehat kita sudah hilang. Tidak peduli seorang kyai atau seorang santri, tidak peduli seorang mahasiswa atau dosen, kaya atau miskin, ganteng, cantik ataupun ga karuan. Sebentar lagi bulan puasa, semoga itu semua bisa melatih kita untuk melawan hawa nafsu dan kita bisa melanjutkannya di bulan-bulan berikutnya sehingga kita terhindar dari perbuatan hina seperti itu.
Nasirudin, Itulah ketika seseorang tidak bisa melawan hawa nafsu. Jika hawa nafsu sudah mengalahkan kita, maka akal sehat kita sudah hilang. Tidak peduli seorang kyai atau seorang santri, tidak peduli seorang mahasiswa atau dosen, kaya atau miskin, ganteng, cantik ataupun ga karuan. Sebentar lagi bulan puasa, semoga itu semua bisa melatih kita untuk melawan hawa nafsu dan kita bisa melanjutkannya di bulan-bulan berikutnya sehingga kita terhindar dari perbuatan hina seperti itu.
prast, fantastic. awalnya kuingin menangis membaca cerita ini tapi apakah layak aku menangisi hal2 yg begitu menakjubkan & mengembirakan, mungkin itulah yg dinamakan hidayah-NYA dan hanya kepada orang2 tertentu yg akan merasakan kenikmatannya. let's God lead your way !
Nasirudin, Media sangat berperan di era saat ini. Pembuatan image terhadap seseorang atau sesuatu hal, apakah image baik atau buruk, tentu media informasilah yang besar perannya.Bahkan, sekarang sudah mulai mengarah ke perang informasi.Jadi, kita harus pandai-pandai mencermati informasi tersebut dan juga berhati-hati.