Malam Pertama di Bulan Ramadhan sebuah cerpen dari rangkaian cerpen dalam Catatan Harian di Bulan Ramadhan: Malaikat, Aku, dan Setan.
Seperti biasa, menyambut Ramadhan, senja berwarna jingga. Mesra. Awan mengaraknya keliling dunia, menebarkan suasana bahagia. Angin berhembus, berlarian di antara canda tawa manusia, tua muda, laki-laki perempuan, besar kecil, yang sedang berjalan di pematang. Diiringi percik aliran air parit di kanan kiri. Ditemani burung-burung manyar yang berterbangan di cakrawala. Aroma padi bercampur bau lumpur sawah menambah keagungan Allah. Adzan berkumandang. Bersahut-sahutan. Mengusir keheningan. Mewakili alam ucapkan, “Marhaban Yaa Ramadhan.”
...
"Begini," kata Iblis memulai pembicaraan. Ia duduk menghadapi dua malaikat, layaknya seorang guru yang sedang memberi wejangan kepada muridnya. Dengan satai ia melanjutkan kalimat demi kalimat, "Seperti kamu katakana barusan,"—menunjuk Malaikat Pencatat Kejahatan—," sekarang adalah tanggal 1 Ramadhan." "Ya," cetus kedua malaikat berbarengan. "Apa yang biasa dilakukan oleh manusia di saat-saat seperti ini?" Tanya Iblis. "Mereka sedang rajin-rajinnya beribadah, shalat berjama’ah di masjid, tadarrus al Qur’an,….", jawab Malaikat Pencatat Kejahatan.
Kembali ke bumi. Ia terlihat biru bercahaya. Anggun. Teduh. Tampak bersinar dilihat dari angkasa. Jauh di bawah sana, jutaan orang telah bangga karena mengira kebaikan-kebaikan yang dilakukan pada hari ini dicatat sebagai kebaikan di sisi Tuhan mereka.
Ee-r@, aq juga g hafal lagunya...he.he.he...tapi. masih banyak hal_hal lain yang bisa kita lakukan untuk menunjukkan rasa cinta kita kepada INDONESIA..
Dio, Kayak gitu mah biasa, cuman gara-gara nyebar saja jadi bikin heboh...Yang namanya manusia, butuh pelampiasan, marshanda mungkin butuh melampiaskan emosinya dengan merekam dirinya sendiri..jauh lebih baik daripada tawuran...